Aturan Seragam Sekolah Azerbaijan Picu Polemik Hijab, Siswa Gelar Aksi

Internasional20 Dilihat

Gelombang protes terjadi di Azerbaijan setelah penerapan aturan seragam sekolah memicu pembatasan penggunaan hijab bagi siswi dan guru perempuan Muslim. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan siswa berkumpul di sekolah, menangis, hingga memeluk guru mereka yang dilaporkan tidak lagi diperbolehkan mengajar karena mengenakan hijab.

Aksi tersebut menjadi sorotan setelah para siswa menyuarakan penolakan terhadap aturan berpakaian yang dinilai membatasi kebebasan mereka dalam mengenakan penutup kepala. Sejumlah sekolah dilaporkan menolak siswa dan guru berhijab masuk ke lingkungan pendidikan setelah aturan baru mulai diterapkan.

Kontroversi bermula dari perubahan aturan seragam di sekolah negeri Azerbaijan. Ketentuan baru tersebut menekankan prinsip sekularisme dalam berpakaian, tetapi tidak secara eksplisit menyebut larangan penggunaan hijab.

Meski demikian, penerapan aturan di sejumlah sekolah dilaporkan membuat siswi dan guru perempuan yang mengenakan hijab menghadapi hambatan untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Sejumlah guru mengaku diminta melepas hijab atau tidak lagi mengajar dengan pakaian tersebut.

Situasi ini memicu pertanyaan mengenai penerapan aturan seragam dan dampaknya terhadap hak siswa untuk memperoleh pendidikan. Perbedaan antara isi aturan tertulis dan penerapannya di sekolah menjadi salah satu pokok persoalan yang memicu protes.

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan dukungan kepada guru perempuan mereka. Dalam salah satu video, siswa tampak mengerumuni dan memeluk guru yang dikabarkan kehilangan kesempatan mengajar karena mengenakan hijab.

Video lain memperlihatkan pelajar menyampaikan keberatan terhadap pembatasan tersebut. Mereka menilai hijab tidak seharusnya menjadi alasan bagi seorang siswa untuk kehilangan akses pendidikan atau bagi guru untuk tidak dapat menjalankan pekerjaannya.

Meski video-video itu menyebar luas, informasi mengenai setiap kejadian tetap perlu dibedakan berdasarkan lokasi, sekolah, dan keterangan pihak terkait. Tidak semua detail dalam unggahan media sosial dapat dianggap telah terverifikasi secara independen.

Salah satu guru yang menyampaikan keberatan adalah Zahra Hasanova. Ia mengungkapkan perasaan terluka atas pembatasan yang membuatnya menghadapi pilihan antara mempertahankan hijab atau melanjutkan pekerjaannya sebagai guru.

Hasanova menilai keputusan mengenakan hijab merupakan pilihan pribadi. Ia juga menyampaikan bahwa keputusan untuk melepas hijab, apabila suatu hari diambil, seharusnya menjadi pilihan perempuan itu sendiri.

Kesaksian tersebut memperlihatkan dampak langsung aturan berpakaian terhadap tenaga pendidik perempuan yang mengenakan hijab. Persoalan ini kemudian berkembang dari perdebatan mengenai seragam sekolah menjadi diskusi yang lebih luas mengenai kebebasan beragama dan hak untuk bekerja.

Aksi penolakan tidak hanya berlangsung di lingkungan sekolah. Sejumlah laporan media internasional menyebut demonstrasi terkait pembatasan hijab juga terjadi di sejumlah lokasi di Azerbaijan.

Amnesty International pada 16 Oktober 2026 menyatakan keprihatinan atas laporan penahanan para pengunjuk rasa yang melakukan aksi damai. Organisasi tersebut juga menyoroti dugaan pembatasan akses pendidikan bagi siswi yang mengenakan hijab serta menyerukan penghormatan terhadap kebebasan berekspresi dan beragama.

Perkembangan tersebut membuat persoalan hijab di sekolah Azerbaijan menjadi perhatian internasional. Namun, jumlah orang yang ditahan, kondisi masing-masing kasus, serta tindak lanjut pemerintah perlu merujuk pada laporan terbaru dan sumber yang dapat diverifikasi.

Azerbaijan merupakan negara di kawasan Kaukasus Selatan dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Di sisi lain, negara tersebut memiliki sistem pemerintahan sekuler, yang antara lain menjadi dasar perdebatan mengenai penerapan aturan berpakaian di lembaga pendidikan negeri.

Kontroversi ini memperlihatkan ketegangan antara kebijakan seragam yang dikaitkan dengan prinsip sekularisme dan tuntutan sebagian warga agar penggunaan hijab tetap dihormati. Perdebatan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampak kebijakan terhadap kesempatan belajar siswa dan hak guru untuk bekerja.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada bagaimana otoritas pendidikan dan pemerintah Azerbaijan menjelaskan serta menerapkan ketentuan seragam tersebut. Bagi para siswa dan guru yang terdampak, kepastian aturan menjadi penting agar mereka dapat memperoleh pendidikan dan menjalankan pekerjaan tanpa menghadapi pembatasan yang tidak jelas.